Hakikat lbadah (QS. Al-Baqarah 2:2 1-22)

Ibadah

Hakikat lbadah (QS. Al-Baqarah 2:2 1-22)
Terima kasih telah mengunjungi blog belajar Tafsir Al-Quran dan Artinya, Artikel Sebelumnya membahas tentang ” Fungsi Manusia” hari ini saya akan berbagi informasi tentang Hakikat lbadah. Semua orang membutuhkan banyak informasi tidak terkecuali info tentang Hakikat lbadah adalah, untuk lebih jelasnya silahkan untuk hanya membaca seluruh isi artikel ini.

Hakikat lbadah

Hakikat lbadah
Hakikat lbadah

Hakikat lbadah (QS. Al-Baqarah 2:2 1-22)

Intisari Tafsir

Perintah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla mengandung dua makna. Pertama, bagi orang mukmin berarti perintah agar lebih kuat dan mantap dalam ibadahnya. Kedua, bagi orang kafir berarti perintah berikrar (mengucapkan syahadatain).

lbnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini termasuk ayat Al Qur’an yang menunjukkan sifat tauhid uluhiyyah karena di dalamnya terdapat seruan untuk menyembah Allah Ta’ala (u’budu). Seseorang yang berpikir tentang alam semesta, bumi,langit, berbedanya bentuk, warna, karakteristik, manfaat, dan fungsinya masing-masing niscaya akan menemukan dan meyakini kekuasaan, keagungan,serta kehebatan Zat yang menciptakannya.lbadah adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Adapun bentuk ibadahnya adalah mengesakan Allah Ta’ala baik dalam segi uluhiyyah, rububiyyah,maupun asma’ wa sifat-Nya, termasuk mentaati seluruh perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Kemudian, pada ayat ke-22, Allah Ta’ala mengingatkan manusia bahwa Dia adalah pencipta semua yang ada, Zat yang menciptakan manusia, baik umat terdahulu maupun terkemudian,serta menciptakan semua sebab dari munculnya manusia kedunia; baik yang menyangkut ayah dan ibu, tempat, waktu, dan perlengkapan lainnya.

Tujuan ibadah kepada Allah Ta’ala adalah agar manusia menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Hal ini menyangkut tiga hal. Pertama, meninggalkan kekufuran dan memasuki ketauhidan. Kedua, meninggalkan semua perkara yang dilarang oleh syariat. Ketiga, senantiasa menjaga niat agar selalu terpaut kepada Allah Ta’ala.(Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhlm, lbnu Katsir dan Tafsir Ar Raghib Al asfahani,Raghi b Al Asfahani)

Dalam ‘ulumul Qur’an dijelaskan bahwa ayat-ayat Al Qur’an dapat dikla¬≠ sifikasikan ke dalam dua bagian,yaitu ayat makkiyah dan ayat madaniyah. Makkiyah adalah ayat atau surat dalam Al Qur’an yang diturunkan sebelum hijrah. Sebagian cirinya menggunakan kata ya ayyuhannas (wahai manusia).

Adapun madaniyah adalah ayat atau ‘surat Al Qur’an yang diturunkan setelah hijrah. Sebagian cirinya adalah meng¬≠ gunakan kata ya ayyuhal/adzlna amanu (wahai orang beriman). yaitu pada awal ayat atau surat. Ayat 21-22 dari QS Al Baqarah ini termasuk kepada sebagian, ayat makkiyah karena diawali dengan kata ya ayyuhannas (wahai manusia). (Al ltqan fi ‘Ulumit Qur’an, Jalaluddin, As Suyuthi)

Khasanah Pengetahuan

Allah Ta’ala telah menyediakan untuk orang-orang beriman dua jenis ayat.
Pertama, ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat yang Allah Ta’ala firmankan dalam kitab-Nya, khususnya Al Qur’an. Kedua, ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat dalam wujud ciptaan Allah Ta’ala berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya.

Ayat-ayat inimeliputi segala macam ciptaan, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokostnos). Bahkan, diri manusia pun, baik fisik maupun psikis, termasuk pula sebagai dari ayat kauniyah sebagaimana yang disebutkan dalam QS Fushshilat, 41: 53.

Selain itu, sebagian dari ayat-ayat kauniyah sering disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yaitu Al Qur’an. Allah Ta’ala memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Maka, ketika para ilmuwan menyelidiki dengan saksama paparan ayat-ayat tersebut, mereka dibuat takjub karena menemukan keajaiban ilmiah yang terkandung di dalamnya.

Secara global ayat ini berisi ajakan Allah Ta’ala kepada manusia untuk masuk ke dalam Islam melalui hal-hal yang bersinggungan langsung dengan kehidupan. Maka, manusia dapat menemukan kebenaran dengan landasan tauhid dalam segala aspeknya, yaitu meyakini kebenaran Al Qur’an, membenarkan kenabian Rasulullah saw.,dan meyakini adanya surga dan neraka sebagai balasan atas amal perbuatannya selama didunia. (TafsirAtTashil lf’U/Om At Tanzi/, lbnu Jizy dan Tafsir Al Manor, Muhammad Rasyid Ridha)

Rujukan Hadis

Dari Abu Hurairah bahwa seorang badui mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku mengamalkannya niscaya aku akan masuk surga?” Beliau menjawab,”Engkau menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat yang wajib, menunaikan zakat yang fardu, dan berpuasa Ramadhan.” Dia berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah atas hal ini sedikit pun untuk selamanya dan tidak pula mengurangi darinya.” Ketika orang ini pergi, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ingin melihat seorang laki-laki dari penduduk surga hendaklah dia melihat kepadanya.” (HR Muslim, No.16)

Panduan Amal

Cara menjadi ahli ibadah yang sejati, antara lain:

selalu meluruskan niat, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung kepada niat, dan setiap orang akan mendapatkan (bagian pahala) sesuai apa yang dia niatkan.” (HR Mvttafaqun ‘Alaih);
beribadah dengan landasan ilmu dan senantiasa mencontoh Rasulullah saw. dalam melaksanakan setiap ibadah;
istikamah, yaitu senantiasa menjaga fluktuasi ibadah; apabila sedang menurun: dan lemah, ibadah kita jangan sampai terpuruk sehingga berada di bawah standar ibadah fardu; apabila sedang semangat, kita dapat meningkatkan ibadah sampai pada sesuatu yang bersifat nafilah (ibadah sunnah);
senantiasa melakukan muhasabah dengan balutan perasaan khauf (takut) dan raja’ (harap); khauf artinya merasa takut apabila ibadahnya tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. dan tidak diterima oleh Allah Ta’ala sehingga melahirkan kehati-hatian; ada pun raja’ artinya pengharapan yang besar atas pahala dari Allah Ta’ala dan surga sebagai balasan dari amal ibadahnya sehingga melahirkan keseimbangan antara sikap hati-hati dan optimis;
tidak menyepelekan ibadah dan sunnah Nabi Saw. sekecil apapun.

Dengan demikian posting blog Belajar Tafsir Al-Quran dan Artinya dengan judul “Hakikat lbadah” semoga Alloh Swt memberikan pahala bagi anda yang membaca dan mengamalkan bacaan ini, dan berikan doa kepada yang telah membuat tulisan ini. Anda juga dapat membaca artikel Tafsir Al-Quran lainnya di sebelah kanan menu blog artikel ini.

TAFSIR AL-QURAN – Artikel berjudul Hakikat lbadah berasal dari hasil kutipan Al-Quran “Hijaz The Practice” Tujuan hanya ingin berbagi Ilmu Islam kepada khalayak Umum, semoga diberikan Keberkahan kepada Penyusun Hijaz The Practice. Aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *